Ramadhan di Lapas Ambarawa Serasa di Pondok Pesantren

KOMPAS.com - Jauh di dalam tembok tua bernama Benteng Willem I atau dikenal sebagai Benteng Pendem, Ambarawa, sayup-sayup terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran.

Semakin didekati, suaranya makin jelas. Nadanya bermacam-macam, ada yang parau, serak tapi ada pula yang merdu.

Suara-suara ini berasal dari para narapidana Lapas Ambarawa yang tengah bertadarus di Masjid Darut Ta’ibin di kompleks Lapas peninggalan Belanda tersebut.

Mereka duduk bersila secara melingkar. Sebagian menghadap dampar atau meja kayu panjang untuk meletakkan Al Quran, sebagian lagi langsung memegangya dengan tangan.

"Tadarus kami lakukan setiap pagi habis tausiyah pagi," kata Ketua Takmir Masjid Darut Ta’ibin, Budi Supriyanto (58), Jumat (25/5/2018) pagi.

Ia mengatakan, tadarus pada bulan Ramadhan ini dilakukan setiap pagi, siang dan malam hari.

Tadarus pagi hari dilakukan setelah shalat dhuha dan menyimak tausyiah pagi yang disampaikan oleh penyuluh dari Kantor Kemenag Kabupaten Semarang.

Tadarus siang, dilakukan selepas dzuhur sampai ashar dan tadarus malam dilakukan setelah tarawih.

"Kalau pagi kita tadarus sampai jam sebelas, ada 21 orang. Kalau siang yang ikut sekitar 18 orang, sedangkan malam ada sembilan narapidana," ujarnya.

"Jadi kita bisa katam Alquran, minimal satu kali seminggu." imbuhnya.

Sesuai dengan arti dari nama Masjid Darut Tabiin ini, yakni rumah orang-orang yang hendak bertaubat maka para narapidana Lapas Ambarawa ini banyak mengisi waktu selama Ramadhan dengan beribadah.

Mulai dari tadarus, salat tarawih, Salat 5 waktu berjamaah dan mendengarkan tausiyah atau ceramah agama.

Budi mengaku dipercaya sebagai salah satu Takmir Masjid Darut Tabiin, karena dianggap tidak pernah berbuat kesalahan selama menjalani hukuman.

Tugas ini ia lakukan dengan ikhlas, lantaran disisa masa hukumannya yang akan berakhir pada akhir September 2018 ini dirinya ingin berbuat yang bermanfaat bagi orang lain, khususnya bagi sesama narapidana.

"Jika ada narapidana yang masih belum mau beribadah, kami malah semakin tertantang untuk mengajaknya, mulai dari membaca Al Quran hingga salat,” ujarnya.

Menurutnya, kebebasan menjadi hal yang paling didambakan oleh setiap narapidana. Mereka terpaksa menjadi pesakitan sebagai ganjaran atas kejahatan yang telah mereka lakukan.

Berada di sebalik tembok Benteng Willem I ini, kata Budi, dirasakan sebagi kasih sayang Tuhan dengan banyak memberikan waktu untuk merenungi setiap episode kelam dalam perjalanan hidupnya.

Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan maghfirah (pengampunan) ini, Budi ingin memanfaatkan waktunya untuk berbuat baik dan beramal salih.

"Saya dulu terjerat kasus korupsi. Terkadang dalam tadarus ini meski tak tahu artinya, saya seperti sedang meratapi dosa," tuntasnya.

Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Kelas IIA Ambarawa, Maskuri, mengatakan, penghuni Lapas Ambarawa sebanyak 431 orang. Terdiri dari 385 narapidana muslim, 44 narapidana nasrani dan 2 orang narapidana beragama Budha.

"Mengaji menjadi salah satu syarat untuk asimilasi bagi narapidana. Kegiatan ini kami gelar secara bergiliran," kata Maskuri.

Ia menjelaskan, upaya pembinaan yang dilakukan kepada para penghuni Lapas Ambarawa ini dilakukan dengan dua pendekatan, yakni melalui pembinaan rohani dan pelatihan keterampilan.

Khusus untuk narapidana yang beragama Islam, pada bulan Ramadhan ini diwajibkan untuk puasa.

"Jadi kami atur pembagian makannya, yaitu jam dua sampai setengah tiga untuk sahur dan menjelang buka puasa. Khusus untuk buka puasa, kami berikan ekstra puding," ujarnya.

Ketua Panitia Ramadhan Lapas Ambarawa, Brilian (31), menambahkan, tema Ramadhan kali ini adalah "Saatnya lakukan tobat sebelum ajal menjerat, segera lakukan salat".

Adapun kegiatan yang dilangsungkan selama Ramadan antara lain bersih-bersih di sekitar areal masjid, Salat Tarawih, tadarus, pengumpulan zakat, Salat Idul Fitri. Pelaksanaan Salat Tarawih sendiri dijadwal secara bergiliran per blok, karena daya tampung masjid Lapas yang terbatas.

"Setiap malamnya Shalat Tarawih diikuti sekitar seratusan narapidana yang berasal dari 3 kamar. Sisanya Terawih di kamarnya masing-masing," kata Brilian.

Selain itu kegiatan yang bersifat ritual, pihaknya juga menggelar sejumlah lomba untuk menggairahkan narapidana belajar agam lebih baik lagi. Lomba-lomba tersebut antara lain lomba azan, baca alquran, MTQ dan lomba pidato.

"Semoga momentum Ramadha ini berkesan bagi para warga binaan. Meaki di daam Lapas, mereka berasa di Pondok Pesantren," tuntasnya.

 

© Copyright 2018 MAN Pemalang.

Developed by JOGJALAB.COM